AnakBisa
← Pustaka AnakBisa

Bangka Belitung dan Legendanya, Bujang Katak

Cerita Rakyat Bujang Katak berasal dari Bangka Belitung yang selalu diceritakan secara turun temurun oleh para orang tua.

Oleh Tim AnakBisa4 menit baca

Cerita Rakyat Bujang Katak adalah sebuah dongeng dari Bangka Belitung, atau disingkat Babel, yang selalu diceritakan secara turun-temurun oleh para orang tua. Kisah ini menceritakan tentang seorang Putri Raja yang bersedia menikah dengan seseorang yang miskin dan tidak menarik secara fisik, namun memiliki hati yang baik.

Seperti apa kisah cinta di antara keduanya? Mari kita temukan jawabannya dalam cerita ini.

Cerita Awal Bujang Katak dari Bangka Belitung

Cerita rakyat dari Bangka Belitung ini dimulai dengan kisah seorang janda miskin. Pada suatu masa, di sebuah dusun di kaki bukit di Pulau Bangka, hiduplah seorang janda tua seorang diri di gubuk lapuknya. Sehari-hari, janda miskin ini berusaha keras untuk bertahan hidup di ladangnya yang kecil. Dengan tenaganya yang semakin lemah, dia tetap berjuang menjaga ladangnya.

Doa Janda Tua yang Terkabul

Kelanjutan kisah dari Bangka Belitung ini menceritakan mengenai harapan serta doa dari janda tua tersebut. Suatu hari, janda tua itu turun ke ladangnya karena musim menanam telah tiba. Walaupun ladangnya agak jauh dari rumah, dia tetap berjalan kaki dengan tekun. Saat beristirahat, dia berdoa agar dikaruniai seorang anak yang bisa membantunya. Bahkan, dia bersedia menerima anak dalam bentuk apa pun.

Beberapa hari kemudian, doanya terjawab, dan janda tua itu hamil. Kabar kehamilan janda tua tersebut menjadi perbincangan hangat di dusun. Para penduduk bertanya-tanya bagaimana perempuan tua itu bisa hamil tanpa memiliki suami. Gosip dan asumsi negatif pun menyebar di kalangan mereka.

Kelahiran Bujang Katak dalam Legenda Bangka Belitung

Selanjutnya kisah rakyat dari Bangka Belitung ini menceritakan kelahiran Bujang Katak. Pada suatu malam, janda tua itu berteriak minta tolong karena mengalami sakit perut yang hebat. Warga dusun pun berdatangan untuk membantu. Namun, ketika mereka sampai di depan gubuk janda tua itu, mereka mendengar tangisan bayi. Mereka terkejut saat melihat perempuan tua itu telah melahirkan seorang anak berwujud katak.

Kejadian ini membuat heboh dusun, dan perempuan itu menjadi bahan pembicaraan. Akan tetapi, sang janda tua tersebut tetap mengasuh anaknya dengan kasih sayang yang penuh. Anaknya, yang dia beri nama Bujang Katak, tumbuh menjadi seorang remaja.

Meskipun berwujud katak, Bujang Katak, yang menjadi tokoh dalam legenda Bangka Belitung ini, dapat berbicara seperti manusia dan rajin membantu ibunya di ladang. Orang-orang di desa pun menyukai Bujang Katak karena sifatnya yang ramah dan penuh kebaikan.

Bujang Katak Ingin Melamar Putri Raja

Namun, suatu hari, Bujang Katak terlihat murung. Khawatir melihat anaknya terus melamun, ibunya pun menegurnya, “Apa yang menjadi pikiranmu? Seharian ini kau hanya melamun saja.” Bujang Katak kemudian menjawab, “Aku telah tumbuh dewasa, Bu. Ini sudah saatnya aku untuk menikah.” Ibunya tersenyum, “Oh, sepertinya anakku ini sedang jatuh cinta. Beri tahu Ibu siapa wanita itu, dan Ibu akan segera melamarnya.” Akan tetapi, Bujang Katak meminta agar ibunya melamarkan Putri Bungsu raja sebagai calon istrinya.

Sang Ibu Pergi ke Istana

Ibunya kaget mendengar permintaan anaknya yang terasa mustahil. Meskipun begitu, karena sayang pada Bujang Katak, tokoh utama dalam cerita rakyat Bangka Belitung ini, sang ibu pun pergi ke istana dengan membawa buah tangan untuk sang Raja. Melihat penampilan perempuan tua itu, Raja merendahkannya dan menganggapnya tidak pantas.

Meskipun Raja ingin menolak lamaran Bujang Katak, ia memanggil ketujuh putrinya untuk memberikan kesempatan pada Putri Bungsu untuk memutuskan. Hanya Putri Bungsu yang setuju menikah dengan Bujang Katak, dan Raja menetapkan syarat sulit: Bujang Katak harus membuat jembatan emas dari gubuknya sampai ke pintu gerbang istana dalam waktu satu minggu atau akan dihukum mati. Meski sulit, Bujang Katak setuju dengan syarat tersebut.

Bujang Katak Berhasil Membuat Jembatan Emas

Bujang Katak kemudian pergi ke hutan untuk melakukan tapa. Pada malam keenam, ia melalui proses perubahan wujud yang ajaib. Kulit tubuhnya mengelupas, dan tubuhnya kemudian berubah jadi tumpukan emas. Ia menyusunnya menjadi jembatan emas yang memesona dalam semalam. Ketika Raja dan keluarganya melihat keajaiban ini, mereka tercengang.

Bujang Katak Menikahi Putri Bungsu Raja

Raja mencoba merendahkan Bujang Katak, namun Putri Bungsu memilih untuk menikahinya. Raja dan keluarganya menyesal telah merendahkan Bujang Katak dan menerima dia sebagai penguasa yang bijaksana. Putri Bungsu serta Bujang Katak pun hidup berbahagia, dan dilimpahi kekayaan yang banyak di kerajaan yang kini dipimpin oleh Bujang Katak.

Pesan Moral Legenda Bangka Belitung

Pesan moral dari cerita rakyat Bangka Belitung ini adalah jangan menilai seseorang hanya dari penampilan fisiknya. Usaha, kerja keras, dan doa dapat membawa kesuksesan kepada seseorang, bahkan jika penampilannya tidak biasa.

Ada yang ingin dicoba setelah membaca?

Temukan kelas berbasis proyek yang dapat dipelajari anak sesuai ritmenya.

Lihat kelas AnakBisa